Uzbekistan-AS Perkuat Perdagangan, AFKA Bangun Pabrik di Kentucky

Uzbekistan-AS Perkuat Perdagangan, AFKA Bangun Pabrik di Kentucky

MEDIAAKTUAL.CO.ID — Uzbekistan memperdalam hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat melalui pembelian pesawat Boeing dan investasi manufaktur di Kentucky. Perusahaan aluminium AFKA menjadi perusahaan manufaktur Uzbekistan pertama yang beroperasi di AS, dengan pabrik di Bowling Green yang dijadwalkan mempekerjakan 331 orang.

Perdana Menteri tidak disebutkan dalam bahan. Namun, data dari kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) menunjukkan percepatan kerja sama bilateral sejak pertengahan tahun ini.

Paket Komitmen Dagang Juni: Tarif dan Platform Investasi

Pada Juni, Duta Besar USTR Jamieson Greer berkunjung ke Tashkent dan menandatangani paket komitmen dagang awal. Uzbekistan berkomitmen menghapus atau mengurangi tarif atas barang industri dan produk pertanian AS.

Sebaliknya, Washington berjanji memberikan pertimbangan yang menguntungkan dalam kebijakan tarif bagi produk industri dan pertanian Uzbekistan. Kedua pihak tengah menyelesaikan Perjanjian Perdagangan dan Investasi Timbal Balik.

Di bulan yang sama, International Development Finance Corporation (DFC) AS meluncurkan Platform Investasi Bersama AS-Uzbekistan. Platform itu menyasar investasi strategis di sektor energi, infrastruktur, mineral kritis, serta transportasi dan logistik.

Boeing dan Pabrik Aluminium di Kentucky

Pada 2025, Tashkent mengumumkan kesepakatan senilai USD 8,5 miliar untuk membeli hingga 22 pesawat Boeing 787 Dreamliner. Armada itu akan membuka penerbangan langsung jarak jauh ke AS dan mendorong konektivitas serta pariwisata.

Arus investasi kini bergerak dua arah. Perusahaan Uzbekistan AFKA membangun fasilitas manufaktur di Bowling Green, Kentucky, dan menjadi perusahaan manufaktur Uzbekistan pertama yang beroperasi di AS.

Upacara peletakan batu pertama berlangsung pada Juli. Setelah rampung, pabrik AFKA Aluminum Solutions akan mempekerjakan 331 orang dan menopang ekonomi lokal.

Pembangunan Kota Khiva hingga Nukus

Pemerintah Uzbekistan tidak hanya membangun ibu kota. Kota bersejarah Khiva akan direvitalisasi melalui pembangunan ruang konferensi, hotel bintang tiga, dan rumah penerimaan tamu.

Rencana lain mencakup jalan tol dan jalur kereta yang menghubungkan Bandara Urgench dengan Khiva. Modernisasi bandara daerah juga disiapkan untuk memperbaiki konektivitas domestik dan internasional.

Di Nukus, ibu kota Republik Karakalpakstan, pemerintah menargetkan peningkatan transportasi publik lewat pinjaman dari Bank Rekonstruksi dan Pembangunan Eropa (EBRD).

Mineral Kritis dan Pertemuan Trump-Mirziyoyev

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev dijadwalkan bertemu pada Desember. Trump mengundang Mirziyoyev sebagai tamu KTT G-20 di Miami.

Isu mineral kritis, energi, dan transportasi juga dibahas dalam pertemuan Mirziyoyev dengan Utusan Khusus AS untuk Asia Selatan dan Tengah Sergio Gor di sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Bishkek, Kyrgyzstan.

Pada KTT November 2025 antara Trump dan lima pemimpin Asia Tengah, Washington berjanji menjajaki perluasan kemitraan dalam penjualan dan privatisasi UzAuto Motors. Investasi potensial USD 3 miliar dari Air Products untuk fasilitas produksi metanol di Uzbekistan juga dibahas.

Pemerintah Uzbekistan menargetkan 54 persen listrik berasal dari sumber terbarukan pada 2030. Washington dan Tashkent berharap perusahaan AS menanamkan modal di sektor itu.

Kendala Amandemen Jackson-Vanik

Satu hambatan struktural masih membayangi: Amandemen Jackson-Vanik. Aturan era Perang Dingin itu menolak hubungan dagang normal permanen bagi Uzbekistan.

Tanpa pencabutan amandemen tersebut, insentif tarif dan akses pasar yang disepakati kedua negara berpotensi tidak berjalan penuh. Pembahasan soal ini belum masuk dalam paket komitmen Juni.

Bagi Uzbekistan, percepatan kerja sama ini dipandang sebagai peluang membangun kemitraan komersial baru, bukan sekadar kompetisi memperebutkan sumber daya dengan kekuatan besar lain di Asia Tengah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index