MEDIAAKTUAL.CO.ID — Sedikitnya 22 personel militer Amerika Serikat dilaporkan tewas sejak perang dengan Iran dimulai, lebih tinggi dari angka resmi Pentagon yang mencatat 18 kematian. Washington Post mengutip enam pejabat Pentagon tanpa nama yang menyebut selisih itu, sementara Menteri Pertahanan Pete Hegseth membantah laporan tersebut sebagai "kebohongan total".
Enam pejabat Pentagon yang dikutip surat kabar itu berbicara dengan syarat anonim. Mereka menyebut jumlah sebenarnya lebih tinggi dari yang dirilis resmi ke publik. Hingga kini belum ada penjelasan resmi soal selisih empat nama tersebut.
Selisih Angka yang Tak Dijelaskan Pentagon
Pentagon menolak menjelaskan perbedaan antara angka internal yang beredar dan daftar resmi yang dipublikasikan. Juru bicara kementerian tidak memberi rincian tambahan saat dimintai konfirmasi soal temuan Washington Post.
Pete Hegseth merespons laporan itu dengan pernyataan keras. Ia menyebut tulisan Washington Post sebagai "kebohongan total" tanpa memerinci bagian mana yang ia bantah.
Pernyataan Hegseth tidak menyertakan data pembanding. Tidak ada penjelasan apakah angka 18 tetap menjadi satu-satunya rujukan resmi atau ada pembaruan yang sedang disiapkan.
Mengapa Selisih Data Korban Jadi Persoalan
Perbedaan angka korban militer bukan sekadar soal statistik. Publik AS dan keluarga prajurit bergantung pada data resmi untuk mengetahui nasib anggota keluarga mereka yang bertugas di zona perang.
Ketika angka internal dan eksternal berbeda, kepercayaan terhadap laporan pemerintah bisa terganggu. Anggota Kongres dari kedua partai biasanya menuntut penjelasan ketika ada indikasi data yang tidak konsisten.
Washington Post tidak membeberkan identitas enam pejabat yang menjadi sumber. Surat kabar itu juga tidak menyebut apakah selisih angka berasal dari korban yang belum teridentifikasi atau kategori kematian yang tidak dihitung.
Posisi Pentagon dan Bantahan Hegseth
Pentagon memilih tidak mengomentari substansi laporan. Sikap itu berbeda dari Hegseth yang secara terbuka menyerang kredibilitas Washington Post.
Belum ada konfirmasi independen yang memverifikasi angka 22. Pihak lain seperti Komando Pusat AS (CENTCOM) juga belum mengeluarkan pernyataan terpisah soal jumlah korban.
Sejumlah pengamat pertahanan di Washington menilai perdebatan ini akan berlanjut selama Pentagon tidak merilis rincian tambahan. Mereka menunggu apakah kementerian akan memperbarui daftar resmi atau mempertahankan angka 18.
Yang Ditunggu Selanjutnya
Anggota Komite Angkatan Bersenjata DPR dan Senat AS berpotensi meminta penjelasan langsung dari Pentagon. Dengar pendapat soal anggaran militer biasanya menjadi forum untuk mempertanyakan data semacam ini.
Keluarga prajurit yang tewas juga bisa menuntut transparansi. Mereka punya kepentingan langsung untuk memastikan tidak ada nama yang terlewat dari daftar resmi.
Sampai ada klarifikasi, selisih antara 18 dan 22 nama akan terus menjadi pertanyaan terbuka. Washington Post mempertahankan laporannya, Pentagon mempertahankan angka resminya, dan Hegseth mempertahankan bantahannya.