JAKARTA - Langkah strategis diambil oleh Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) yang secara resmi menggandeng jaringan Indonesia Creative Cities Network (ICCN) sebagai mitra kolaborasi utama guna mendongkrak potensi industri kreatif dari berbagai daerah agar mampu menembus pasar global sekaligus mengokohkan eksistensi Indonesia di kancah ekonomi kreatif internasional.
Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengungkapkan bahwa ICCN memegang posisi yang sangat krusial berkat rekam jejak panjang serta pengalaman empiris mereka dalam merajut dan menumbuhkan ekosistem kreatif di pelosok daerah nusantara.
“Kami melihat ICCN telah menjadi mitra strategis dari kementerian, karena passion dan keseriusan dari pengurusnya, baik pusat hingga daerah,” ujar Riefky dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Menurut pandangan Riefky, fondasi kekuatan kreatif yang bersemi di tingkat lokal harus dikonversi secara sistematis menjadi daya tarik unggulan yang siap dipamerkan serta dikembangkan pada skala nasional hingga kancah dunia.
Sinergi erat ini sekaligus berfungsi sebagai instrumen kunci dalam mematangkan persiapan perhelatan akbar World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang dijadwalkan bakal dihelat di Jakarta pada rentang tanggal 21 sampai 23 Oktober 2026 mendatang.
Forum tingkat dunia yang mengusung sorotan tema Inclusively Creative: Collective Continuity tersebut dipatok mampu mendatangkan lebih dari 8.000 delegasi peserta yang berasal dari lebih dari 50 negara, serta diestimasikan melahirkan dokumen krusial bertajuk Jakarta Vision on Creative Economy 2026.
Demi menjembatani potensi daerah menuju panggung internasional, kedua belah pihak sepakat untuk menyelaraskan ragam program kerja dalam bingkai rangkaian kegiatan Road to WCCE.
Salah satu agenda unggulannya adalah program bertajuk “Mendengar Suara Ekraf dari Daerah untuk Dunia” hasil kerja sama dengan lembaga penyiaran TVRI guna memvisualisasikan narasi potensi kreatif lokal ke ruang publik nasional hingga global.
Bentuk kerja sama konkret lainnya mencakup peluncuran inisiatif Ekraf Academy serta pengembangan proyek ICCN Island-Creative Village yang didesain sebagai pusat etalase inovasi, kerja sama, dan narasi lokal guna memikat jejaring pasar internasional.
Tidak hanya itu, keduabelah pihak turut mematangkan persiapan agenda Simposium Konsorsium Perguruan Tinggi Ekraf 2026 serta perhelatan Rapat Koordinasi Nasional ICCN 2026 guna mendongkrak kapasitas ekosistem kreatif secara menyeluruh.
Riefky menekankan bahwa penguatan ekosistem di daerah wajib digalakkan secara gotong royong dengan merangkul seluruh unsur akademisi, kelompok asosiasi, institusi keuangan, insan media, para pelaku usaha, hingga jajaran birokrasi pemerintahan.
Penerapan pola pendekatan berbasis heksaheliks tersebut diletakkan sebagai pilar utama kemitraan antara Kemenekraf dan ICCN dalam merangsang pertumbuhan ekonomi kreatif yang bersifat inklusif serta berkelanjutan.
Sebagai catatan, organisasi ICCN sendiri telah menaungi lebih dari 254 inisiatif Kota dan Kabupaten Kreatif sejak pertama kali berdiri pada tahun 2015, dengan konsistensi mengembangan jejaring kota mandiri berdasarkan landasan 10 Prinsip Kota Kreatif.
Ketua Umum ICCN, Tubagus Fiki Chikara Satari, menyatakan komitmen penuh lembaganya untuk menyukseskan perhelatan akbar WCCE 2026 sebagai momentum emas dalam memperkokoh struktur industri kreatif tanah air.
“Kami di ICCN mendukung suksesnya penyelenggaraan WCCE demi memperkuat ekosistem ekonomi kreatif,” kata Fiki.
Melalui jalinan kerja sama yang kokoh ini, berbagai potensi kreatif yang lahir dari daerah diantisipasi tidak hanya berhenti sebagai kekuatan domestik semata, melainkan mampu terintegrasi secara langsung dengan rantai pasok global, perluasan pasar ekspor, aliran investasi asing, serta peluang aliansi strategis internasional lewat ajang WCCE 2026.