JAKARTA - Tradisi berbuka puasa dengan bubur sayur krecek di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi salah satu warisan kuliner Ramadan yang masih bertahan hingga sekarang. Sajian sederhana berbahan bubur nasi dengan kuah sayur lodeh dan krecek ini sudah dikenal masyarakat setempat sejak ratusan tahun lalu dan terus dilestarikan secara turun-temurun.
Menu berbuka tersebut biasanya disajikan kepada warga dan jamaah masjid setiap bulan Ramadan. Bubur yang lembut dipadukan dengan sayur lodeh, krecek, telur, dan pelengkap lain menjadikannya hidangan khas yang selalu dinanti masyarakat saat waktu berbuka tiba.
Tradisi ini tidak sekadar menyajikan makanan berbuka puasa, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan bagian dari sejarah penyebaran agama Islam di wilayah Bantul.
Warisan Tradisi Sejak Abad ke-16
Bubur sayur krecek diyakini telah ada sejak abad ke-16, seiring berdirinya masjid tua di wilayah Kauman, Wijirejo, Pandak, Bantul. Sejak masa awal berdirinya masjid tersebut, tradisi memasak bubur untuk berbuka puasa tetap dipertahankan oleh masyarakat hingga sekarang.
Tradisi kuliner ini disebut sebagai peninggalan tokoh penyebar Islam di wilayah tersebut. Bubur dipilih sebagai makanan berbuka karena teksturnya lembut dan mudah dicerna setelah seharian berpuasa.
Selain sebagai santapan berbuka, bubur sayur juga memiliki nilai simbolis karena dahulu digunakan sebagai sarana dakwah untuk mendekatkan masyarakat dengan ajaran Islam.
Menu Buka Puasa yang Tetap Dipertahankan
Setiap Ramadan, warga setempat bergotong royong menyiapkan bubur sayur krecek untuk dibagikan kepada jamaah yang datang berbuka puasa. Tradisi ini melibatkan berbagai kalangan masyarakat yang bersama-sama mempersiapkan bahan hingga proses memasak.
Dalam penyajiannya, bubur nasi biasanya disiram kuah sayur lodeh dan dilengkapi krecek, telur, serta lauk lain. Perpaduan rasa gurih dari santan dan bumbu tradisional membuat hidangan ini memiliki cita rasa khas yang berbeda dari menu bubur pada umumnya.
Jumlah porsi yang disediakan bervariasi tergantung hari dan jumlah jamaah yang datang. Pada hari-hari tertentu, terutama menjelang akhir pekan, jumlah bubur yang dimasak bisa mencapai ratusan porsi untuk memenuhi kebutuhan warga dan pengunjung.
Makna Kebersamaan dan Nilai Sosial
Tradisi bubur sayur krecek tidak hanya berkaitan dengan kuliner Ramadan, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan di tengah masyarakat. Warga biasanya menyumbangkan bahan makanan seperti beras atau bahan pelengkap lainnya sebagai bentuk partisipasi dalam kegiatan berbuka puasa bersama.
Kegiatan memasak bersama menjadi ajang silaturahmi sekaligus mempererat hubungan antarwarga. Tidak sedikit pula perantau yang sengaja pulang kampung untuk merasakan kembali suasana berbuka puasa dengan menu tradisional tersebut.
Kebersamaan ini menjadikan tradisi bubur sayur krecek bukan hanya sekadar aktivitas memasak, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Bantul.
Tetap Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
Di tengah berkembangnya berbagai jenis makanan modern untuk berbuka puasa, bubur sayur krecek tetap menjadi menu khas yang tidak tergantikan. Banyak warga yang merasa tradisi ini memiliki nilai sejarah dan budaya yang harus dijaga.
Keberlanjutan tradisi tersebut menunjukkan kuatnya komitmen masyarakat dalam mempertahankan warisan leluhur. Bubur sayur krecek bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga menjadi pengingat perjalanan sejarah panjang masyarakat Bantul dalam menjaga tradisi Ramadan.
Hingga kini, setiap datang bulan puasa, sajian bubur sayur krecek tetap hadir sebagai menu berbuka yang sederhana namun sarat makna, sekaligus menjadi bukti bahwa tradisi ratusan tahun masih hidup di tengah kehidupan modern.