Nilai Tukar Rupiah Diperkirakan Masih Tertekan Usai Kenaikan Suku Bunga

Jumat, 19 Juni 2026 | 04:58:02 WIB
Ilustrasi Rupiah.

JAKARTA - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Jumat (19/6/2026), meskipun Bank Indonesia (BI) telah kembali menaikkan suku bunga acuan.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dan ditutup melemah di kisaran Rp17.790 hingga Rp17.840 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Sebelumnya, pada Kamis (18/6/2026), rupiah ditutup melemah 0,18% ke level Rp17.794 per dolar AS, sementara indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat ke posisi 100,34.

Kebijakan moneter menjadi sentimen utama pasar. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%.

"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah, serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah," kata Ibrahim, Kamis (18/6/2026).

Selain faktor suku bunga, pasar juga mencermati keputusan MSCI terkait status Indonesia di emerging market serta memantau perkembangan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang diharapkan dapat meredam volatilitas harga minyak global.

Meskipun MSCI memutuskan untuk tetap mempertahankan Indonesia dalam kelompok emerging market, penyedia indeks tersebut memberikan catatan mengenai transparansi struktur kepemilikan saham yang dinilai mengganggu pembentukan harga yang wajar di pasar modal.

Tantangan struktural ini, ditambah dengan kondisi arus modal keluar (outflow) yang terjadi di pasar modal, membuat nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan cukup berat di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Terkini