JAKARTA - Perubahan perilaku keuangan masyarakat Indonesia bukan sekadar tren sesaat, melainkan respons nyata terhadap realitas ekonomi yang makin dinamis. Di tengah gejolak harga kebutuhan pokok, ketidakpastian ekonomi global, serta tekanan dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat kini cenderung lebih cermat dan selektif dalam membuat keputusan finansial. Fenomena ini menuntut sektor perbankan melakukan penyesuaian strategi layanan agar tetap relevan, efektif, dan bermakna bagi masyarakat luas.
SMBC Indonesia sebagai salah satu pemain di industri perbankan menyadari adanya perubahan ini. Komunikasi dan Head Daya SMBC Indonesia, Andrie Darusman, menekankan pentingnya stabilitas arus kas bagi rumah tangga maupun pelaku usaha sebagai prioritas utama di tengah fluktuasi ekonomi saat ini.
Perubahan Perilaku Keuangan Masyarakat
Perilaku finansial masyarakat semakin dipengaruhi oleh gaya hidup dan aktivitas sehari-hari. Alih-alih sekadar menjadi pengguna jasa bank, nasabah sekarang memikirkan aspek yang lebih luas dalam hidupnya, seperti kesehatan, produktivitas, serta keterlibatan dalam komunitas. Faktor-faktor ini menjadi dasar pembentukan kebiasaan finansial jangka panjang — suatu aspek yang menurut SMBC Indonesia tak bisa diabaikan oleh sektor perbankan.
Andrie menegaskan bahwa “kesehatan individu dan ketahanan finansial kami pandang sebagai dua hal yang saling terkait dan saling menguatkan.” Penekanan pada keseimbangan antara aspek fisik dan finansial ini menunjukkan bahwa bank harus memahami kondisi emosional dan sosial nasabahnya, bukan sekadar transaksi semata.
Perubahan ini juga sejalan dengan tren literasi dan inklusi keuangan yang meningkat di Indonesia. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan nasional terus bergerak naik, mencerminkan semakin banyak masyarakat memahami pentingnya pengelolaan keuangan secara bijak.
Bank sebagai Bagian dari Ekosistem Hidup Masyarakat
SMBC Indonesia menyikapi perubahan ini dengan memperluas ruang keterlibatannya tidak hanya dalam produk keuangan, tetapi juga dalam kegiatan berbasis komunitas. Salah satu contohnya adalah dukungan terhadap acara seperti Pocari Sweat Run Indonesia 2026, yang dipandang sebagai sebuah upaya membangun ekosistem produktivitas dan inklusivitas.
Strategi ini menunjukkan bahwa bank perlu hadir tidak hanya sebagai penyedia layanan finansial, tetapi juga sebagai fasilitator gaya hidup sehat dan aktivitas sosial yang bermanfaat. Keterlibatan dalam komunitas menjadi nilai tambah yang memperkuat hubungan jangka panjang antara bank dan nasabahnya.
Pendekatan ini menjadi penting mengingat masyarakat modern semakin mencari hubungan emosional dengan brand, termasuk lembaga keuangan. Mereka ingin merasakan bahwa bank bukan hanya tempat menyimpan uang, tetapi juga institusi yang memahami nilai hidup mereka secara holistik.
Transformasi Digital sebagai Kunci Layanan Masa Depan
Tak hanya memperluas fokus sosial, SMBC Indonesia juga memprioritaskan transformasi digital sebagai bagian tak terpisahkan dari layanan perbankan masa depan. Melalui agenda SMBC Indonesia TechConnect 2025, bank ini memperlihatkan komitmennya dalam mendorong inovasi, khususnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan kualitas layanan.
Forum ini menghadirkan para profesional dan menutup rangkaian kegiatan dengan demonstrasi implementasi AI dalam industri perbankan — seperti penggunaan Jeni, sebuah AI yang berfungsi sebagai customer service (CS) untuk merespons pertanyaan nasabah dengan cepat dan akurat.
Menurut Wakil Direktur Utama SMBC Indonesia, Michellina Laksmi Triwardhany, AI telah menjadi bagian dari kehidupan profesional sehari-hari, termasuk dalam mendorong produktivitas dan efektivitas layanan. “Banyak tugas-tugas saya yang dibantu dengan memakai AI…” ujar Michellina, menunjukkan bahwa teknologi ini bukan sekadar gagasan masa depan, tetapi instrumen nyata yang meningkatkan pengalaman nasabah.
AI dalam Industri Perbankan: Peluang dan Tantangan
Peran AI dalam perbankan tidak hanya sebatas layanan pelanggan. CEO dan Co-Founder Kata.ai, Irzan Raditya, menjelaskan bahwa AI berperan penting dalam berbagai fungsi, mulai dari efisiensi operasional hingga deteksi fraud. “AI itu hadir sebagai teknologi yang bergerak dengan data,” ujar Irzan, menekankan data sebagai bahan bakar utama teknologi ini.
AI dapat meningkatkan efisiensi operasional hingga 40% dalam pemrosesan dokumen dan dukungan pelanggan. Dalam konteks deteksi penipuan atau fraud detection, teknologi ini mampu mempercepat identifikasi risiko dan memitigasi kesalahan hingga tingkat yang lebih rendah.
Potensi akhir dari implementasi AI adalah peningkatan pendapatan bank secara keseluruhan, dengan dampak positif yang diharapkan tidak hanya bagi bank itu sendiri tetapi juga perekonomian Indonesia secara lebih luas.
Integrasi Layanan Bank dengan Realitas Hidup Nasabah
Perubahan perilaku finansial masyarakat Indonesia menandai babak baru dalam hubungan antara nasabah dan bank. Masyarakat kini lebih selektif dan memiliki harapan yang lebih tinggi, menuntut bank untuk hadir tidak hanya sebagai lembaga finansial, tetapi juga sebagai mitra dalam perjalanan hidup mereka.
Bank perlu beradaptasi melalui pendekatan layanan yang lebih personal, keterlibatan sosial yang lebih mendalam, serta pemanfaatan teknologi canggih untuk menjawab kebutuhan nasabah di era modern ini. Sekadar menunggu nasabah datang ke counter tidaklah cukup — bank harus hadir di mana nasabah berada, baik secara digital maupun dalam konteks sosial dan gaya hidup mereka.