JAKARTA - Upaya menjaga keseimbangan antara keberlanjutan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan petani terus menjadi perhatian serius di Kabupaten Lampung Timur.
Wilayah ini dikenal memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan, namun pada saat yang sama menghadapi tekanan yang tidak ringan akibat degradasi lahan.
Kerusakan tanah di kawasan hutan berdampak langsung terhadap produktivitas, keberlanjutan ekosistem, serta kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sumber daya alam di sekitarnya.
Degradasi lahan tidak hanya mengurangi kesuburan tanah, tetapi juga memperbesar risiko bencana ekologis, seperti banjir dan penurunan kualitas lingkungan.
Kondisi tersebut mendorong perlunya pendekatan baru dalam pengelolaan lahan yang tidak sekadar berorientasi pada hasil jangka pendek, melainkan juga memperhitungkan keberlanjutan jangka panjang.
Dalam konteks inilah, sistem pengolahan lahan berbasis agroforestry mulai diperkenalkan kepada para petani yang berada di kawasan hutan Lampung Timur.
Pendekatan ini dinilai mampu menjawab dua kebutuhan sekaligus, yaitu menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Salah satu bentuk yang dikembangkan adalah cocoa agroforestry berkelanjutan, yang mengombinasikan tanaman kakao dengan fungsi ekologis hutan.
Agroforestry Kakao sebagai Solusi Berkelanjutan
Cocoa agroforestry berkelanjutan dipandang sebagai sistem pengelolaan lahan yang mampu memulihkan fungsi ekologis kawasan hutan tanpa menghilangkan peran ekonomi bagi petani.
Melalui sistem ini, lahan tidak lagi dikelola secara monokultur yang berisiko mempercepat degradasi, tetapi dikembangkan secara terpadu dengan mempertimbangkan keseimbangan alam.
Dalam praktiknya, agroforestry kakao menggabungkan tanaman kakao dengan vegetasi lain yang berfungsi menjaga struktur tanah, mempertahankan keanekaragaman hayati, serta mengurangi dampak perubahan iklim.
Sistem ini juga memberi peluang bagi petani untuk memperoleh pendapatan yang lebih stabil karena hasil yang dihasilkan tidak hanya bergantung pada satu komoditas semata.
Program ini dinilai menjadi solusi strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Melalui penerapan yang tepat, agroforestry diharapkan mampu memperbaiki kondisi lahan yang terdegradasi sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil pertanian masyarakat sekitar hutan.
Dukungan Pemerintah Daerah terhadap Program Agroforestry
“Agroforestry kakao bukan sekadar sistem budidaya. Ini adalah pendekatan terpadu yang mampu merehabilitasi hutan, menjaga keanekaragaman hayati, mengurangi risiko perubahan iklim, sekaligus memberikan pendapatan berkelanjutan bagi petani,” kata Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah.
Pernyataan tersebut disampaikan Ela dalam diskusi program cocoa agroforestry berkelanjutan yang digelar di Kelompok Tani Hutan (KTH) 5 Desa Sidomulyo, Kecamatan Way Jepara.
Dalam kesempatan itu, pemerintah daerah menegaskan komitmennya untuk mendorong pengelolaan lahan yang lebih ramah lingkungan dan berorientasi jangka panjang.
Ela menilai bahwa Lampung Timur memang memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan.
Namun, tantangan berupa tekanan kawasan hutan, degradasi lahan, serta dampak perubahan iklim tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, penerapan perhutanan sosial dan agroforestry dipandang sebagai langkah strategis untuk menjawab persoalan tersebut.
Melalui pendekatan ini, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pelaku utama dalam pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Dengan demikian, rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan dapat tumbuh secara alami di tingkat tapak.
Kolaborasi Multipihak dalam Pengelolaan Hutan
Diskusi program cocoa agroforestry berkelanjutan tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri.
Hadir dalam kegiatan itu pimpinan PT Olam Indonesia/OFI Abdillah beserta jajaran, tim Palladium dan Partnering for Forests (P4F), perwakilan UK Foreign, Commonwealth and Development Office (FCDO), mitra internasional, hingga kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur.
Keterlibatan berbagai pihak ini menunjukkan bahwa pengelolaan hutan berkelanjutan membutuhkan kerja sama lintas sektor. Pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga donor, dan mitra internasional memiliki peran masing-masing dalam mendukung keberhasilan program.
Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat kapasitas petani, memperluas akses pasar, serta memastikan keberlanjutan pendanaan dan pendampingan teknis.
Ela juga menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menyukseskan program agroforestry kakao. Menurutnya, tanpa dukungan dan komitmen bersama, upaya rehabilitasi lahan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat akan sulit mencapai hasil yang optimal.
Harapan Jangka Panjang bagi Petani dan Lingkungan
Melalui praktik agroforestry yang baik, kakao diharapkan dapat berkembang menjadi komoditas unggulan yang ramah lingkungan dengan nilai ekonomi tinggi. Selain meningkatkan pendapatan petani, sistem ini juga membuka peluang akses pasar global bagi produk kakao lokal yang memenuhi standar keberlanjutan.
“Pemerintah Kabupaten Lampung Timur berkomitmen penuh mendukung program ini melalui kebijakan, sinergi lintas OPD, dan fasilitasi yang dibutuhkan agar program berjalan optimal dan berkelanjutan,” tegasnya.
Melalui diskusi tersebut, Bupati berharap dapat terbangun kesamaan pemahaman mengenai arah dan tujuan program agroforestry berkelanjutan.
Selain itu, diharapkan tersusun langkah-langkah konkret yang dapat segera diterapkan di lapangan serta terjalin kemitraan jangka panjang yang adil dan saling menguntungkan bagi seluruh pihak yang terlibat.
Cocoa agroforestry berkelanjutan diharapkan menjadi model pengelolaan lahan yang tidak hanya relevan bagi Lampung Timur, tetapi juga dapat direplikasi di daerah lain yang menghadapi persoalan serupa.
Dengan pendekatan yang tepat, degradasi lahan dapat ditekan, kesejahteraan petani meningkat, dan kelestarian lingkungan tetap terjaga.