Harga Cabai Rawit dan Daging Sapi Naik di Tengah Penurunan Ayam Ras

Harga Cabai Rawit dan Daging Sapi Naik di Tengah Penurunan Ayam Ras
Ilustrasi Cabe rawit dan Cabe Merah.

JAKARTA - Perkembangan harga komoditas sembako di wilayah Jawa Timur terpantau terus mengalami fluktuasi yang dinamis dari waktu ke waktu. Pada hari ini, pergerakan naik terjadi pada komoditas beras premium, minyak goreng kemasan, daging sapi bagian paha belakang, seluruh varian susu, hingga cabai rawit merah.

Sebaliknya, untuk pasokan daging ayam ras beserta daging ayam kampung dilaporkan justru mengalami penurunan harga dibanding periode sebelumnya.

Mengamati fluktuasi nilai jual sembako secara harian menjadi poin krusial yang tidak boleh dilewatkan oleh publik. Selain dapat membantu masyarakat dalam mengondisikan anggaran belanja belanja harian, data ini juga penting guna menjaga keseimbangan pengeluaran rumah tangga agar tidak membengkak di tengah situasi harga pasar yang tidak menentu.

Secara definitif, sembako merupakan akronim dari sembilan bahan pokok yang menjadi komoditas dasar harian bagi masyarakat luas demi mencukupi kebutuhan gizi serta penunjang kebutuhan rumah tangga lainnya.

Sembilan jenis kebutuhan primer publik tersebut meliputi beras, gula pasir, minyak goreng dan mentega, daging sapi beserta daging ayam, telur ayam, susu, bawang merah dan bawang putih, gas elpiji dan minyak tanah, hingga komoditas garam.

Di luar sembilan komponen utama tersebut, pasokan bumbu dapur yang kedudukannya tidak kalah penting untuk konsumsi harian adalah cabai. Berikut merupakan daftar lengkap mengenai perkembangan harga sembako paling baru di area Jawa Timur pada hari Minggu, 21 Juni 2026, yang dihimpun via sistem informasi ketersediaan dan perkembangan harga bahan pokok (Siskaperbapo) setempat:

Beras premium dipatok senilai Rp15.010 per kg, beras medium senilai Rp12.953 per kg, gula kristal putih senilai Rp17.166 per kg, minyak goreng curah senilai Rp20.462 per kg, minyak goreng kemasan premium senilai Rp21.708 per liter, minyak goreng kemasan sederhana senilai Rp19.007 per liter, serta minyak goreng Minyakita senilai Rp16.239 per liter.

Untuk sektor daging dan telur, paha belakang daging sapi dihargai Rp126.568 per kg, daging ayam ras senilai Rp32.256 per kg, daging ayam kampung senilai Rp66.888 per kg, telur ayam ras senilai Rp25.198 per kg, serta telur ayam kampung seharga Rp46.663 per kg.

Sementara untuk produk pelengkap dapur, susu kental manis merek Bendera dijual Rp12.626 per kaleng ukuran 370 gram, susu kental manis merek Indomilk senilai Rp12.638 per kaleng ukuran 370 gram, susu bubuk merek Bendera senilai Rp42.318 per boks ukuran 400 gram, dan susu bubuk merek Indomilk seharga Rp41.075 per boks ukuran 400 gram.

Selanjutnya, garam bata berada di angka Rp1.729, garam halus seharga Rp9.662 per kg, cabai merah keriting seharga Rp37.870 per kg, cabai merah besar seharga Rp38.219 per kg, cabai rawit merah seharga Rp57.232 per kg, bawang merah seharga Rp42.529 per kg, bawang putih seharga Rp35.265 per kg, serta gas elpiji dipatok senilai Rp20.092.

Merujuk pada pantauan harga hari ini, beras premium mengalami kenaikan Rp51 atau sekitar 0,34 persen, minyak goreng kemasan premium naik Rp81 atau 0,37 persen, minyak goreng kemasan sederhana naik Rp396 atau 2,13 persen, daging sapi paha belakang naik Rp1.273 atau 1,02 persen, serta cabai rawit merah melonjak Rp763 atau 1,35 persen.

Di sisi lain, harga untuk komoditas daging ayam ras menyusut sebesar Rp326 atau 1,00 persen, daging ayam kampung turun hingga Rp3.584 atau 5,09 persen, dan garam bata terpangkas Rp200 atau sebesar 10,37 persen.

Pergeseran nilai jual sembako di pasar dipengaruhi oleh kombinasi berbagai macam faktor makro maupun mikro, mulai dari komponen modal produksi, intervensi kebijakan pemerintah, pergerakan nilai kurs mata uang, hingga faktor kondisi cuaca.

Apabila volume permintaan publik melonjak namun pasokan barang di pasar stagnan atau justru berkurang, maka harga barang otomatis akan bergerak naik. Sebaliknya, saat jumlah penawaran dari produsen melimpah melebihi tingkat permintaan, harga komoditas berpeluang besar untuk turun.

Anomali cuaca ekstrem, musibah bencana alam, ataupun transisi pergantian musim memiliki andil besar terhadap produktivitas sektor pertanian. Hambatan pasokan akibat kendala cuaca buruk inilah yang kerap memicu lonjakan harga barang di pasar.

Regulasi impor, ketersediaan subsidi energi, penetapan pajak, atau aturan sejenis yang diterbitkan oleh pihak otoritas pemerintah turut memegang kendali atas fluktuasi harga sembako, seperti kebijakan pembatasan pasokan luar negeri ataupun restrukturisasi tarif pajak.

Lonjakan pada biaya pengadaan bahan baku, pupuk, bahan bakar operasional, hingga standar upah tenaga kerja berpotensi meningkatkan pengeluaran produksi dan aspek transportasi logistik, yang pada akhirnya mendongkrak harga sembako.

Fluktuasi nilai tukar mata uang asing, khususnya pada komoditas pangan yang didatangkan via jalur impor, akan memengaruhi stabilitas harga beli di mana depresiasi mata uang lokal bakal melambungkan harga barang dari luar negeri.

Tingkat inflasi yang tinggi juga cenderung menstimulasi kenaikan harga sembako akibat pembengkakan biaya barang dan jasa secara umum, yang diperparah apabila stabilitas kondisi makroekonomi sedang goyah.

Kendala pada alur rantai distribusi seperti masalah kemacetan lalu lintas, aksi mogok kerja massal, atau problem logistik internal lainnya dapat memicu keterlambatan pengiriman pasokan, sehingga stok menipis dan harga melonjak.

Berbagai rentetan faktor tersebut menyebabkan nominal sembako di bursa perdagangan sering kali berubah, sehingga menuntut adanya sistem pengawasan serta formulasi kebijakan yang adaptif demi mengawal stabilitas pasar. Perlu dipahami pula bahwa harga sembako bisa bervariasi di tiap pasar, di mana rincian di atas merupakan angka rata-rata sewilayah Jawa Timur.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index