JAKARTA - Tren perawatan anti-aging kini tidak lagi sekadar berkutat pada penggunaan krim topikal atau operasi plastik, melainkan telah merambah ke tingkat seluler. Terapi regeneratif semakin diminati masyarakat modern, karena menawarkan perbaikan struktural dari dalam tubuh, alih-alih sekadar menutupi gejala penuaan di permukaan kulit.
Meski sangat populer, masih banyak masyarakat awam yang keliru atau sulit membedakan ragam terapi regeneratif yang tersedia di klinik medis. Pemahaman akan istilah-istilah ini sangat penting agar pasien mendapatkan perawatan yang tepat sasaran sesuai dengan keluhan fisiknya.
Misalnya saja perawatan yang berkaitan dengan stem cell. "Stem cell secara definisi adalah sel yang bisa berdiferensiasi atau menjadi sel apa pun yang dibutuhkan," ucap dr. Dwi Kristanto Wongso, M.Biomed (AAM), yang kerap disapa dr. Kris, dari Seraphim Medical Center saat ditemui di Ageless Festival di Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan, Minggu (14/6/2026).
Dalam terapi regeneratif, stem cell menempati posisi tertinggi karena kecerdasannya mendeteksi dan memperbaiki organ yang rusak. Stem cell dianggap sebagai komponen yang paling canggih karena kemampuannya yang sangat spesifik dalam mencari target perbaikan.
"Jadi, stem cell itu pada saat masuk ke dalam tubuh, dia akan mengeluarkan secretome dan exosome," terang dr. Febby Astari, IFMCP, dari Seraphim Medical Center, dalam sesi talkshow bertajuk "Rahasia Modern untuk Panjang Umur, Bongkar di Sini!" di festival tersebut.
Dokter Febby menjelaskan bahwa stem cell bekerja dengan sangat pintar dalam mendeteksi organ mana yang mengalami kerusakan, sedangkan turunan lainnya seperti secretome bekerja dengan cara berbeda. Penggunaan ekstrak secretome umumnya lebih masif difokuskan pada perbaikan sistem muskuloskeletal atau area sendi.
Pemanfaatan exosome juga menjadi primadona baru di bidang kecantikan. Cairan exosome membawa protein khusus yang berfungsi efektif untuk menurunkan tingkat inflamasi pada kulit wajah maupun area kepala pasien.
"Exosome ini banyak kami gunakan pada terapi-terapi anti-aging, baik itu untuk anti-aging secara estetika atau penampilan di kulit, maupun untuk penyembuhan," papar dr. Kris.
Ia menyebutkan kemampuannya menghaluskan keriput, mengembalikan kelembapan alami, hingga melebatkan serta menguatkan akar rambut. Perlu dipahami bahwa exosome bekerja secara pasif mengikuti aliran darah, berbeda dengan metode terapi lain yang lebih terarah.
Berbeda dengan exosome yang fokus pada peremajaan kulit, stem cell menawarkan potensi perbaikan yang lebih mendalam bagi penanganan masalah medis yang bersifat ekstrem. Prosedur stem cell ini memberikan harapan baru bagi kondisi kesehatan yang sebelumnya sulit ditangani.
Terdapat studi kasus yang mana seorang pasien wanita berusia 21 tahun yang mengalami menopause dini, sukses ditangani tanpa harus menjalani operasi bedah melalui terapi ini.
"Cuman (treatment) dua kali dan pada saat saya cek kembali enam bulan setelah stem cell yang kedua, itu sel telurnya udah bertambah menjadi normal," ungkap dr. Febby.
Perihal metode stem cell yang aman, dr. Febby mengatakan bahwa metode pengambilan sel dari tubuh sendiri atau autologus dinilai jauh lebih menguntungkan dan minim risiko.
"Kalau kami pakai stem cell yang ada dari badan kami sendiri, it's going to be minimum untuk side effects-nya. Penolakan kepada stem cell tersebut tuh akan minim," jelas dr. Febby.
Dengan menggunakan sel dari tubuh sendiri, risiko infeksi silang (cross-infection) hampir tidak ada. Selain itu, prosedur ini juga memastikan bahwa stem cell yang disuntikkan dapat bekerja lebih optimal karena sistem imun tubuh tidak mengenalinya sebagai benda asing.
Metode ini juga telah sesuai dengan regulasi kesehatan yang berlaku di Indonesia. Bagi pasien kanker, ada penanganan seperti autologus yang mengambil sel dari tubuh untuk diubah menjadi stem cell dan dimasukkan kembali ke dalam tubuh, yang dinamakan terapi NK Cell.
"Untuk yang kanker, kami memang tidak lakukan ekstraksi menjadi stem cell, tapi ada satu treatment yang sama seperti stem cell, namanya NK cell therapy. Natural Killer cell. Itu memang dia suatu sistem imun kami yang kerjanya memakan sel-sel kanker," pungkas dr. Febby.