JAKARTA - Kasus kanker pada orang berusia muda terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini mengejutkan karena banyak pasien berasal dari kelompok yang dianggap sehat, mulai dari pelari maraton hingga penganut gaya hidup vegetarian.
Temuan tersebut mendorong para ilmuwan untuk mencari jawaban atas misteri medis ini. Penelitian terbaru mengarah pada satu petunjuk penting, yaitu proses penuaan biologis yang terjadi lebih cepat pada sebagian generasi muda.
Profesor kedokteran di Harvard Medical School, dr. Andrew Chan, mengungkapkan perubahan ini mulai disadarinya sejak dua dekade lalu. Dulu, pasien kanker usia dini mencakup kurang dari 10 persen dari total kasus yang ia tangani.
"Tren ini benar-benar mengejutkan," ujar dr. Chan.
Kini, jumlahnya telah meningkat lebih dari dua kali lipat. Kondisi ini semakin membingungkan karena banyak pasien tidak memiliki faktor risiko tradisional, seperti obesitas atau riwayat kanker dalam keluarga.
Laporan American Cancer Society 2026 mencatat bahwa kasus kanker kolorektal pada kelompok usia di bawah 50 tahun meningkat rata-rata 2,9 persen setiap tahun. Kanker yang muncul di usia muda juga cenderung berkembang dengan lebih agresif.
Untuk mendalami penyebabnya, dr. Chan memimpin proyek penelitian Team Prospect senilai 25 juta dollar AS. Tim ini melibatkan berbagai ahli untuk menyelidiki kemungkinan penyebab dari makanan ultra-proses, mikroplastik, hingga faktor lingkungan lainnya.
Salah satu temuan menarik datang dari dr. Yin Cao dari Washington University School of Medicine. Dalam studi di jurnal Nature Medicine, timnya menganalisis 150.000 sampel darah dari UK Biobank.
Hasilnya, orang yang lahir setelah 1965 memiliki kemungkinan 23 persen lebih tinggi mengalami penuaan biologis yang dipercepat dibanding mereka yang lahir pada 1950-1954. Proses ini berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker paru, saluran cerna, serta kanker rahim.
Berbeda dengan usia kronologis, usia biologis menggambarkan kondisi nyata tubuh. Semakin cepat tubuh menua secara biologis, semakin besar risiko kerusakan sel dan perubahan DNA yang memicu kanker.
Para ahli kini mengembangkan metode pengukuran usia biologis melalui "jam epigenetik". Ke depan, pengukuran ini berpotensi menjadi bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin untuk mendeteksi risiko penyakit sebelum muncul.
Meski gaya hidup sehat penting, para ilmuwan menegaskan bahwa hal itu bukan satu-satunya jawaban. Efek perubahan gaya hidup dalam memperlambat penuaan biologis belum sebesar yang dibayangkan.
Saat ini, peneliti sedang mengembangkan terapi baru yang menargetkan proses penuaan sel, termasuk senyawa untuk memperlambat kerusakan akibat penuaan. Sambil menunggu hasil penelitian, para ahli menekankan pentingnya skrining kanker sejak dini sesuai rekomendasi.
"Yang paling ideal adalah menangani seseorang ketika penyakit masih berada pada tahap awal, saat tubuhnya masih sehat," kata dr. Ferrucci.