Kemenhut Kembalikan 5 Orangutan Kalimantan ke Habitat Alami di TN

Jumat, 03 Juli 2026 | 19:28:31 WIB
Taman Nasional (TN) Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, menjadi rumah baru bagi dua orangutan bernama Douglas Soledo dan Robina.

JAKARTA - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bekerja sama dengan pihak mitra konservasi sukses mengembalikan lima individu Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang telah menyelesaikan masa rehabilitasi ke habitat aslinya di kawasan Taman Nasional (TN) Betung Kerihun, Kalimantan Barat.

Berdasarkan keterangan resmi dari Jakarta, Jumat, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat (Kalbar) Murlan Dameria menjelaskan bahwa agenda pelepasliaran tahap ke-18 ini menjadi bukti nyata dari konsistensi serta perjuangan panjang dalam memulihkan kondisi satwa tersebut.

"Kembalinya lima individu orangutan ini ke habitat alami mereka di TN Betung Kerihun bukan sekadar akhir dari masa rehabilitasi, melainkan sebuah awal baru bagi penguatan populasi Orangutan Kalimantan di alam liar," kata Murlan.

Kelompok primata yang terdiri atas satu pejantan dan empat betina tersebut dilepaskan ke alam bebas oleh tim gabungan BKSDA Kalbar, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS), serta Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS/SOC) pada 30 Juni 2026.

Adapun kelima individu primata tersebut masing-masing bernama Benazir yang berusia 14 tahun, Jamilah berumur 25 tahun yang dilepas bersama anaknya Ulin berusia 1 tahun, serta Sinta berumur 13 tahun bersama anaknya Sabine berusia 2 tahun.

Kondisi fisik beserta perilaku seluruh satwa tersebut dipastikan sudah sangat siap setelah menuntaskan program rehabilitasi mendalam di Sekolah Hutan Jerora, serta merampungkan fase cek kesehatan dan karantina khusus selama satu bulan penuh.

Setelah proses pelepasan selesai, tim monitoring lapangan bakal melangsungkan pemantauan ketat selama tiga bulan ke depan guna memastikan kelima satwa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, mencari pakan alami, serta hidup mandiri lepas dari ketergantungan manusia.

Kepala BBTNBKDS Titik Wurdiningsih menaruh harapan besar agar aksi pelepasliaran satwa langka ini beserta agenda-agenda konservasi berikutnya mampu menjaga populasi hewan lindung tersebut tetap lestari sehingga generasi mendatang tetap dapat menyaksikannya di alam bebas.

"Camp Mentibat, Resor PTN Nanga Hovat, diharapkan ke depan dapat dikembangkan sebagai pusat riset dan pusat edukasi, khususnya terkait orangutan. Begitu pula dengan keindahan alam menuju lokasi pelepasliaran dapat dikembangkan untuk atraksi wisata alam arung jeram," kata Titik Wurdingsih.

Terkini