JAKARTA - Menjaga kesehatan tidak sekadar perihal mencegah penyakit atau rutin berolahraga. Kondisi mental, emosi, serta cara seseorang merespons tekanan hidup juga berperan sangat penting terhadap kesehatan secara keseluruhan.
Dikutip dari Your Tango, praktisi kesehatan sekaligus penulis Emily A. Francis membagikan pengalamannya membangun kembali kesehatan fisik dan mental setelah bertahun-tahun menghadapi gangguan kecemasan, serangan panik, dan agorafobia. Menurutnya, proses pemulihan membutuhkan waktu dan tidak selalu dapat ditempuh melalui satu cara saja.
Berikut tiga kebiasaan yang menurut Francis dapat membantu menjaga kesehatan tubuh dan mental secara bersamaan.
Luangkan waktu untuk mendengarkan sinyal tubuh. Di tengah kesibukan sehari-hari, banyak orang terbiasa mengabaikan sinyal yang diberikan tubuh, seperti mudah lelah, sulit tidur, tubuh terasa tegang, atau emosi yang tidak stabil.
Menurut Francis, mengenali perubahan-perubahan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk lebih memahami kondisi diri sendiri. Dengan memperhatikan apa yang dirasakan tubuh, seseorang dapat lebih cepat menyadari kapan perlu beristirahat, mengelola stres, atau mencari bantuan profesional.
Dikutip dari National Library of Medicine, pengalaman traumatis dapat memengaruhi respons tubuh terhadap stres dalam jangka panjang. Terapi yang berfokus pada kesadaran terhadap sensasi tubuh, seperti Somatic Experiencing, dilaporkan dapat membantu mengurangi gejala pada sebagian penyintas trauma, meski para peneliti menilai bukti ilmiahnya masih terus berkembang.
Tetap terbuka terhadap berbagai pendekatan pemulihan. Francis menyebut bahwa perjalanan menuju kondisi yang lebih sehat tidak selalu sama bagi setiap orang. Karena itu, ia menyarankan untuk tetap terbuka terhadap berbagai pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Pendekatan tersebut dapat berupa pengobatan medis, konseling psikologis, fisioterapi, olahraga, perbaikan pola makan, maupun teknik relaksasi. Menurutnya, berbagai metode tersebut dapat saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Meski demikian, pilihan terapi sebaiknya tetap disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan dilakukan berdasarkan rekomendasi tenaga kesehatan yang kompeten.
Rawat kesehatan secara menyeluruh, bukan hanya gejalanya. Francis juga mengingatkan pentingnya melihat kesehatan dari berbagai aspek, bukan hanya berfokus pada gejala yang muncul. Menurutnya, kesehatan dipengaruhi oleh kondisi fisik, emosi, pola pikir, hingga cara seseorang menjalani kehidupan sehari-hari.
Karena itu, menjaga pola makan, tidur yang cukup, aktif bergerak, mengelola stres, serta merawat kesehatan mental sama pentingnya dalam mendukung kesejahteraan secara menyeluruh. Ia juga menjelaskan bahwa otak sebagai organ biologis berbeda dengan pikiran yang mencakup proses berpikir, merasakan, dan berperilaku.
Memahami keterkaitan keduanya, menurut Francis, dapat membantu seseorang memilih pendekatan yang lebih tepat dalam menjaga kesehatan fisik maupun mental.