Pakar Ingatkan Bahaya Obsesi Berlebihan Pada Tren Clean Eating

Jumat, 19 Juni 2026 | 03:00:32 WIB
Ilustrasi Makanan Saat Sedang Diet.

JAKARTA - Tren gaya hidup clean eating atau mengonsumsi bahan makanan yang dinilai "bersih" serta higienis kian digandrungi di jagat media sosial. Meski demikian, jajaran pakar mengingatkan bahwasanya habit ini dapat bergeser menjadi perilaku obsesif serta berisiko merusak stabilitas fisik ataupun mental bila diaplikasikan secara berlebihan.

Menukil publikasi Science Alert (8/6/2026), Profesor Gemma Sharp dari Adelaide University menguraikan bahwa regulasi pola makan sehat sejatinya krusial demi menjaga kebugaran jasmani dan rohani. 

Namun, konsentrasi yang terlampau kaku pada jenis hidangan tertentu justru dapat memicu ikatan hubungan yang tidak sehat dengan makanan.

Menurut penuturan Sharp, asupan gizi yang seimbang terbukti ampuh meminimalkan risiko bermacam paparan penyakit, seperti diabetes tipe 2, gangguan jantung, hingga beberapa varian kanker. Pola konsumsi yang baik juga berandil besar memproteksi kesehatan psikologis, termasuk meredam risiko depresi. Walau demikian, tidak selamanya ikhtiar makan sehat berbuah positif.

Sharp memaparkan bahwa konsep clean eating merujuk pada rangkaian kebiasaan makan yang berkonsentrasi penuh pada doktrin "nutrisi yang benar". Skema ini umumnya mengarahkan seseorang guna menjauhi asupan yang dinilai tidak sehat, kotor, atau melalui proses pengolahan pabrik yang terlalu panjang.

Gaya hidup ini kian naik daun imbas paparan media sosial layaknya Instagram dan TikTok yang masif menyuarakan kampanye anti-makanan olahan serta memuja makanan yang dianggap "murni". Namun, Sharp mengingatkan bahwa mayoritas pesan itu datang dari influencer kebugaran, bukan dari tenaga medis. Dampaknya, batasan pola makan proporsional dan pola makan restriktif menjadi kabur.

Bagi Sharp, prinsip dasar clean eating sesungguhnya tidak serta-merta membahayakan. Problem utama bakal muncul tatkala seseorang mulai memberlakukan standarisasi aturan makan yang teramat ketat serta mengaitkan jenis menu makanannya dengan nilai harga diri.

"Akibatnya, mereka bisa merasa cemas atau bersalah ketika mengonsumsi makanan yang dianggap tidak sehat atau tidak murni," jelas Sharp.

Anatomi kondisi ini bisa bermutasi menjadi disordered eating atau perilaku makan tidak sehat, yaitu sebuah pola makan bermasalah yang secara klinis belum masuk kategori diagnosis gangguan makan, namun tetap memicu dampak buruk bagi psikologis serta fisik.

Penyimpangan kebiasaan tersebut dapat berwujud tindakan sering melewati jam makan, diet ketat kronis, konsumsi berlebih, olahraga beraroma kompulsif, hingga kecemasan akut atas representasi bentuk tubuh.

Sharp turut menyoroti problematika klinis yang familiar disebut orthorexia nervosa. Walaupun secara kedokteran belum disahkan sebagai gangguan makan dalam klasifikasi medis resmi, gejalanya erat berkorelasi dengan kultur clean eating.

Individu dengan sindrom orthorexia mempunyai tendensi obsesi berlebih terhadap makanan sehat serta merumuskan parameter diet yang sangat mengekang. Apabila parameter itu dilanggar, mereka berpotensi didera tekanan stres emosional yang masif.

Menurut Sharp, problem ini mampu merusak kebugaran fisik, jalinan interaksi sosial, hingga kualitas hidup secara menyeluruh. Riset membuktikan aneka faktor ikut andil memicu disordered eating, seperti genetik, habit diet, sifat perfeksionis, kecemasan, problem citra tubuh, hingga penetrasi pesan penampilan visual.

Sharp membeberkan beberapa indikator tatkala clean eating sudah mengarah ke fase problematis. Di antaranya ialah memilah menu ke dalam taksonomi "baik" dan "buruk", muncul rasa cemas usai makan, mengisolasi diri dari agenda sosial, hingga menghabiskan durasi waktu terlalu lama demi memikirkan makanan, serta hilangnya rasa nikmat saat bersantap.

Sharp menganjurkan pihak keluarga atau kerabat dekat segera memberikan proteksi dukungan apabila mendeteksi indikator hubungan abnormal terhadap makanan. Ia memberikan saran agar dialog dilangsungkan dalam situasi kondusif dan privat, dengan fokus pada aspek kesejahteraan pribadi, bukan pada jenis hidangan atau visual fisik.

Di samping itu, krusial untuk mendengarkan keluh kesah tanpa menghakimi sekaligus mengarahkan mereka untuk berkonsultasi kepada tenaga medis profesional apabila diperlukan. Menurut Sharp, mengawal pola makan sehat tetaplah esensial, namun orientasi utamanya adalah mengonstruksi relasi seimbang dengan makanan, bukan terbelenggu aturan yang membatasi ruang hidup.

Terkini