Menlu Sugiono Dorong Kerja Sama Nuklir RI-Rusia untuk Ketahanan Energi

Kamis, 18 Juni 2026 | 01:56:31 WIB
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono.

JAKARTA - Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, mendorong kerja sama pemanfaatan teknologi nuklir dengan Rusia guna mengejar target swasembada energi nasional dalam tiga tahun ke depan. 

Dalam KTT yang menandai 35 tahun kemitraan ASEAN-Rusia di Kazan, Rusia, Sugiono menegaskan komitmen pemerintah Indonesia untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan melalui eksplorasi berbagai opsi teknologi yang aman.

“Pengalaman luas yang dimiliki Rusia di bidang ini menjadi landasan kuat untuk membangun kerja sama,” kata Sugiono dalam pernyataan yang dirilis Kementerian Luar Negeri RI, Kamis (18/6/2026).

Indonesia menegaskan bahwa kerja sama tersebut harus bersandar pada aspek alih teknologi, pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM), dan penerapan standar keselamatan internasional tertinggi. 

Di tingkat regional, Menlu RI juga mendorong penguatan kemitraan strategis ASEAN dan Rusia untuk menghadapi fragmentasi rantai pasok global.

Menurut Sugiono, stabilitas pasokan energi dan pangan sangat krusial untuk melindungi 670 juta penduduk di Asia Tenggara dari guncangan eksternal. 

Sebagai produsen energi, gandum, dan pupuk dunia, Rusia dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas rantai pasok. 

"Tujuan kami jelas, untuk melindungi sistem pangan kami dari gangguan eksternal. Karena akses terhadap pangan yang terjangkau dan bergizi harus dapat dijangkau setiap rumah tangga," tutur Sugiono.

Impor Minyak dan PLTN Terapung Selain kerja sama nuklir, Indonesia memastikan tetap melanjutkan proses impor minyak mentah dari Rusia sebagai langkah memperkuat cadangan energi nasional. 

Komitmen impor sebesar 150 juta barel akan dilakukan secara bertahap hingga akhir 2026, yang merupakan hasil kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia beberapa waktu lalu.

Indonesia juga tengah menjajaki rencana pembangunan armada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) terapung dengan perusahaan industri nuklir milik Rusia, Rosatom. 

Direktur Utama Rosatom, Alexey Likhachev, menyatakan bahwa pembangunan reaktor nuklir terapung sangat relevan dan efisien bagi Indonesia yang didominasi wilayah kepulauan.

"Indonesia menunjukkan ketertarikan yang sangat besar pada teknologi nuklir. Atas undangan Presiden (Prabowo) Subianto, delegasi besar Rosatom mengunjungi Indonesia beberapa minggu lalu," ujar Likhachev di sela KTT ASEAN-Rusia. 

Fokus pembicaraan saat ini mengarah pada pembangunan reaktor nuklir terapung dengan melibatkan pelaku bisnis Indonesia guna mendukung lokalisasi teknologi.

Terkini