Pakar Sebut Orang yang Menikah Memiliki Risiko Kanker Lebih Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:47:01 WIB
Ilustrasi Suami Istri.

JAKARTA - Bermacam hal dalam dinamika kehidupan dapat memicu peningkatan risiko seseorang terserang kanker, mulai dari faktor keturunan hingga rutinitas aktivitas olahraga harian.

Kini, temuan riset teranyar menunjukkan adanya satu faktor tambahan lain yang layak diperhatikan secara saksama, yaitu status pernikahan terkini dari seseorang.

"Pesan utamanya bukanlah bahwa orang harus menikah untuk mencegah kanker," tegas salah satu peneliti studi tersebut, sekaligus profesor riset di University of Miami’s Miller School of Medicine, dr. Paulo Pinheiro, MD, PhD, melansir Self, Selasa (16/6/2026).

Studi ilmiah yang dirilis dalam jurnal Cancer Research Communications (2026) dengan tajuk "Marriage and Cancer Risk: A Contemporary Population-Based Study Across Demographic Groups and Cancer Types" ini mengulas data di 12 negara bagian Amerika Serikat.

Tim peneliti melakukan analisis mendalam terhadap data kependudukan selama kurun waktu delapan tahun, yang merangkum empat juta temuan kasus kanker pada basis populasi sejumlah 100 juta jiwa.

Dari amatan kelompok subjek tersebut, rasio satu dari lima orang individu usia dewasa tercatat memiliki status belum pernah melangsungkan pernikahan.

Hasil analisis membuktikan, kaum pria lajang mempunyai kerentanan mengidap kanker 70 persen lebih tinggi daripada pria yang berkeluarga, sementara persentase risiko pada wanita lajang menyentuh angka 85 persen.

Bahkan, kelompok wanita yang belum menikah menunjukkan tingkat temuan kasus kanker leher rahim atau serviks yang mencapai hampir tiga kali lipat lebih tinggi.

"Sebagian besar penelitian tentang pernikahan dan kanker berfokus pada apa yang terjadi setelah diagnosis, seperti kelangsungan hidup," kata dr. Pinheiro.

"Sedikit yang diketahui tentang apakah status pernikahan berhubungan dengan risiko terkena kanker sejak awal," tambah dia.

Lonjakan kurva angka kerentanan ini disinyalir amat dipengaruhi oleh pola aktivitas harian, di mana kelompok lajang dinilai lebih rentan memelihara kebiasaan yang tidak sehat.

Mereka juga secara umum diindikasikan memiliki riwayat jumlah mitra seksual yang lebih banyak, sehingga memperbesar potensi pemicu kanker yang berkaitan dengan infeksi menular.

"Penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang tidak menikah lebih berisiko melakukan kebiasaan tidak sehat yang meningkatkan risiko kanker, seperti merokok, penggunaan alkohol, dan pola makan yang buruk," jelas profesor dan ketua Department of Health Disparities di The University of Texas MD Anderson Cancer Center, Lorna H. McNeill, PhD, MPH.

Kedisiplinan dalam melakukan upaya deteksi dini terhadap penyakit juga menjadi faktor pembeda yang sangat mencolok di antara kedua kelompok tersebut.

"Hal ini sangat berlaku bagi pria, yang misalnya 20 persen lebih mungkin menjalani kolonoskopi jika mereka menikah," ungkap ahli bedah kolorektal di MemorialCare Todd Cancer Institute di Long Beach Medical Center, dr. Ketan Thanki, MD.

Walau data statistik menunjukkan angka yang cukup mencemaskan, para praktisi medis menggarisbawahi bahwa perisai utama penangkal penyakit bukanlah bukti legalitas pernikahan, melainkan konsistensi pola hidup.

"Pernikahan itu dikaitkan dengan pola gaya hidup. Orang yang menikah mungkin lebih merawat kesehatannya," sebut kepala bagian onkologi medis gastrointestinal di Fox Chase Cancer Center, dr. Namrata Vijayvergia, MD.

Diri menambahkan bahwa status hubungan formal yang diakui oleh lembaga negara bukanlah motor penggerak utamanya.

Namun, fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa perilaku preventif, seperti kesadaran merubah pola hidup pasca-menikah, memegang peranan krulial untuk menangkal kanker.

"Saya memang berpikir bahwa berada dalam hubungan yang berkomitmen memberikan manfaat penurunan risiko kanker yang serupa, mengingat mereka lebih kecil kemungkinannya mengalami isolasi sosial," papar McNeill.

Masyarakat yang hidup melajang berpotensi lebih tinggi untuk mengalami kondisi isolasi sosial, padahal riset medis membuktikan situasi tersebut dapat mempercepat kemunculan sel kanker.

Sistem perlindungan fisik ini sejatinya bisa dikondisikan secara mandiri dengan cara aktif menginisiasi jejaring sosial atau support system di lingkungan terdekat.

Ahli onkologi medis di Northwell’s Lenox Hill Hospital, dr. Nicholas Hornstein, MD, PhD, memaparkan bahwa fondasi interaksi sosial mampu mendatangkan manfaat kebugaran yang nyata.

"Secara umum, kami tahu bahwa orang yang memiliki struktur sosial yang sedikit lebih kuat akan lebih sering keluar dan beraktivitas. Alhasil, mereka cenderung lebih baik dalam hal kesehatan," kata dia.

Meski demikian, dr. Hornstein secara tegas melarang adanya tindakan instan dari seseorang yang sengaja mencari pasangan hanya demi motif menghindari ancaman penyakit.

"Saya rasa kamu tidak perlu membuka aplikasi kencan karena ingin mengurangi risiko kanker, itu bukan kesimpulan yang tepat," ujar dia.

"Pernikahan, dan bahkan hubungan berkomitmen (pacaran) tidak cocok untuk semua orang, tetapi penguatan positif, manfaat ekonomi, dan sedikit omelan dari orang tercinta membantu kami membantu diri kami sendiri," tambah dr. Ketan.

Dokter Pinheiro memberikan masukan agar kaum lajang mencurahkan perhatian yang lebih besar pada jalannya proses proteksi kesehatan secara mandiri.

"Termasuk melakukan skrining, mengurangi faktor risiko, dan terus terlibat dengan perawatan kesehatan," pungkasnya.

Terkini