Warna Ivory dan Model Mermaid Jadi Tren Gaun Pengantin Terbaik 2026

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:45:31 WIB
Gaun Pengantin Model Mermaid Warna Ivory.

JAKARTA - Pergeseran pada tren busana pernikahan tahun 2026 terpantau semakin meninggalkan penggunaan hiasan payet yang terlalu ramai dan mencolok.

Para calon pengantin wanita saat ini dilaporkan lebih menyukai rancangan yang menonjolkan kekuatan struktur pakaian serta pemilihan jenis bahan dasar kain.

Di samping itu, spektrum warna konvensional terbukti masih belum bisa digeser oleh kehadiran pilihan warna baru yang dinilai lebih berani.

Seluruh detail dari potongan busana pengantin kini sengaja dikonsep demi menonjolkan keindahan lekuk siluet tubuh dari sang pemakai secara natural.

"Sekarang trennya cukup kontras, pilihannya antara yang pas memeluk tubuh seperti mermaid, atau sekalian mengembang besar seperti ballgown," kata desainer dari Ritz Taipei, Sunny, kepada Kompas.com di Bridestory Fair Juni 2026, JICC Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026).

Pemilik sekaligus perancang busana dari Jean Tirtamarta, Jean, mengungkapkan bahwa jenis kain yang paling diminati saat ini adalah satin serta jacquard yang memiliki tekstur khusus.

Kedua varian material kain tersebut dinilai mampu menghadirkan impresi visual yang menawan tanpa harus dipadukan dengan aksen manik-manik yang padat.

"Banyak banget sekarang yang request satin, tapi udah ada teksturnya, seperti plisket satin yang bikin tampilannya jadi lebih menarik daripada sekadar polos," tutur Jean.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, permintaan pasar untuk busana pengantin dengan aksen bordir penuh mulai mengalami penurunan karena bobotnya yang menyulitkan pergerakan.

"Gaunnya jadi berat juga sih, dan kalau gaunnya lebih polos itu (pandangan) orang tertuju ke bride-nya, lebih memuji sang pengantinnya," ucap Jean.

Sunny juga sepakat bahwa arah kiblat mode pernikahan di dalam negeri kini semakin condong ke arah gaya clean look yang minimalis.

Para pelanggan saat ini sudah mulai berkiblat pada tren fesyen luar negeri yang lebih mengutamakan presisi bentuk potongan ketimbang tumpukan ornamen dekorasi.

"Kalau dulu customer Indonesia lebih kaku di gaun brokat dan banyak payet mutiara, sekarang sekitar 60 persen orang sudah bisa menerima kain satin polos," sebut Sunny.

"Kami memanfaatkan bahan kainnya itu sendiri untuk membentuk tekstur dan desain, intinya polos tapi tetap ada sentuhan struktur bajunya," tambah dia.

Siluet pakaian pengantin dengan potongan model duyung (mermaid) terpantau masih kokoh berada di daftar peringkat pilihan teratas para konsumen.

Gaya potongan yang satu ini sangat digemari lantaran terbukti mampu mengikuti kontur alami lekuk tubuh pengantin wanita secara optimal.

"Kalau semi-mermaid, itu favorit yang kami punya karena lumayan masuk di banyak tipe tubuh dan bikin siluet tubuh kami lebih kelihatan," terang Jean.

Selain mampu mempercantik siluet tubuh, model potongan ini juga dinilai sangat ergonomis bagi pengantin yang menggelar pesta pernikahan bernuansa intimate.

"Gaun mermaid atau semi-mermaid juga lebih gampang untuk jalan karena pengantin intimate weddings lebih memilih berbaur sama tamu," sambung dia.

Di luar model duyung, potongan gaya klasik bermodel A-line juga dilaporkan masih tetap menjadi produk andalan di berbagai studio perancang busana.

Penggunaan bahan kain bertekstur pada potongan yang agak longgar ini dipercaya mampu menghindari hasil akhir pakaian yang terkesan kaku.

"Gimana caranya biar A-line itu menarik, masih ada guratan-guratan lipatan yang bikin siluet badan kamu tetap terlihat walaupun potongannya tidak memeluk tubuh," ujar Jean.

Untuk urusan warna, rumpun warna putih murni masih belum tergoyahkan di posisi puncak, namun kini ada pergeseran minat ke arah warna putih mutiara serta putih gading (ivory).

"Kalau tahun ini justru di aku banyak yang request warna ivory atau putih gading. Kadang di beberapa warna kulit, ivory ini membuat pemakainya kelihatan lebih glowing," jelasnya.

Langkah eksperimen dengan mengaplikasikan rumpun warna pastel yang lembut justru cenderung dihindari oleh mayoritas perancang busana maupun konsumen.

"Warna pastel itu sangat pilih-pilih, tidak semua tone kulit cocok memakainya. Kalau warna peach atau kuning itu bisa membuat kulit terlihat kusam," ungkap Sunny.

Pada akhirnya, adopsi warna putih mutiara dinilai sebagai pilihan yang paling aman sekaligus mampu memancarkan aura kemewahan yang maksimal.

"Putih mutiara itu elegan dan bersih, cocok untuk warna kulit apa pun," terang Sunny.

Bagi Jean maupun Sunny, eksistensi dari pilihan warna klasik ini mengakar kuat pada memori kolektif masyarakat mengenai standar kemegahan pesta pernikahan.

"Karena semua yang kami lihat di pernikahan, seperti royal weddings atau fairy tales, warnanya selalu putih," pungkas Jean.

Terkini