Kementerian ESDM Ungkap Pentingnya Mineral Kritis bagi Ekonomi

Rabu, 17 Juni 2026 | 22:35:31 WIB
Ilustrasi Mineral.

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa komoditas mineral kritis bakal menjadi faktor penentu utama bagi daya saing ekonomi global, sehingga tata kelola sumber daya mineral dan batu bara di Indonesia harus dilakukan secara optimal, berkelanjutan, serta berorientasi pada nilai tambah.

"Mineral kritis akan menjadi salah satu penentu utama daya saing ekonomi global di masa depan," kata Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba), Kementerian ESDM Cecep Mochammad Yasin di Jakarta, Rabu.

Menurut pandangannya, konjungtur dunia saat ini tengah berada dalam fase transisi yang sangat dinamis, di mana eskalasi ketegangan geopolitik, hambatan rantai pasok global, isu perubahan iklim, serta percepatan peralihan energi telah mengubah lanskap sektor energi dan mineral secara fundamental.

Dirinya menyebutkan bahwa dalam kondisi pelik seperti sekarang, aspek ketahanan energi tidak lagi sekadar berpusat pada pemenuhan ketersediaan pasokan semata, melainkan juga bertumpu pada kapabilitas suatu negara dalam mengontrol sumber daya strategis yang melandasi teknologi masa depan.

Indonesia, lanjut Cecep, sebetulnya mempunyai modalitas yang sangat kokoh untuk mengarungi pergeseran tersebut, mengingat tanah air menguasai cadangan nikel terbesar di skala global yang diproyeksikan mampu bertahan hingga 31 tahun ke depan dengan asumsi volume produksi tahunan mencapai 190 juta ton.

Bukan hanya itu, Indonesia juga menyimpan deposit timah yang setara untuk pemenuhan kebutuhan selama 22 tahun ke depan dengan rata-rata kapasitas produksi sebesar 65 ribu ton per tahun, yang memosisikan negara ini sebagai pemilik cadangan timah terbesar kedua di dunia.

"Selanjutnya cadangan bauksit terbesar keempat dunia, serta tembaga, emas, perak, dan besi yang cukup," ujar Cecep saat memberikan sambutan pada acara Dialog Mineral Kritis yang diselenggarakan oleh Indef.

Dirinya menambahkan, Indonesia turut diberkahi dengan ketersediaan cadangan batu bara terbesar di pentas dunia, yang sejauh ini masih memegang kontribusi vital dalam membentengi ketahanan pemenuhan energi di level nasional.

Cecep berpendapat bahwa problematika kedaulatan energi nasional pada era modern tidak dapat dipisahkan begitu saja dari kecakapan dalam mengolah potensi komoditas mineral dan batu bara secara berkelanjutan dan bernilai ekonomi tinggi.

"Tren global menunjukkan adanya perubahan struktur kebutuhan energi, permintaan terhadap mineral kritis seperti litium, kobalt, grafit, tembaga, dan rare earth elements terus meningkat hingga tahun 2040 untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik, baterai, energi terbarukan, dan jaringan listrik modern," katanya menambahkan.

Terkini