Energi Terbarukan Dari PLTS Membuat Biaya Listrik Lebih Murah Secara Signifikan

Jumat, 03 April 2026 | 15:53:50 WIB
Energi Terbarukan Dari PLTS Membuat Biaya Listrik Lebih Murah Secara Signifikan

JAKARTA - Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) kini mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dibandingkan dua dekade terakhir. 

Awalnya, panel surya tergolong mahal dan jarang digunakan, namun perkembangan teknologi dan efisiensi membuat tenaga surya kini menjadi sumber energi terjangkau di berbagai belahan dunia.

Pada 2015, kapasitas terpasang PLTS global mencapai 228 gigawatt (GW), hanya sekitar 1% dari pasokan listrik dunia. Lima tahun kemudian, kapasitas meningkat menjadi 759 GW atau 3% dari kebutuhan listrik global. 

Prediksi terbaru menunjukkan bahwa pada 2025, kapasitas terpasang akan menembus 2.919 GW, menyumbang sekitar 10% pasokan listrik dunia dan untuk pertama kalinya melampaui tenaga nuklir yang hanya 9%.

Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut. Jika laju pertumbuhan serupa terjadi, pada 2030 kapasitas PLTS global dapat mencapai 9.000 GW, cukup untuk memenuhi lebih dari 20% kebutuhan listrik dunia. Lonjakan ini menandai transformasi besar dari sumber energi mahal menjadi solusi bersih dan ekonomis.

Dominasi Cina dalam Energi Surya

Cina menempati posisi terdepan dalam kapasitas tenaga surya dunia. Menurut data badan energi nasional, pada 2025 negara ini berhasil menambah modul surya baru dengan kapasitas 315 GW, sehingga total kapasitas mencapai 1.300 GW. Saat ini, sekitar 11% pasokan listrik Cina berasal dari tenaga surya, sementara kontribusi batu bara turun dari 70% menjadi 56% dalam sepuluh tahun terakhir.

Cina juga memproduksi lebih dari 80% modul surya global, menjadi pemasok utama bagi seluruh dunia. Keberhasilan ini menunjukkan bagaimana negara dengan investasi besar pada teknologi hijau mampu mengubah komposisi energi nasional sekaligus berperan penting dalam rantai pasokan global.

Uni Eropa Genjot Energi Surya

Uni Eropa berada di posisi kedua dalam pengembangan PLTS global, dengan kapasitas terpasang sekitar 406 GW. Tenaga surya menyumbang 13% dari total kebutuhan listrik di seluruh blok Uni Eropa. Di sisi lain, proporsi listrik dari batu bara berkurang drastis dari 25% pada 2015 menjadi hanya 9% pada 2025.

Beberapa negara di Eropa Selatan menunjukkan pencapaian tinggi: Yunani, Siprus, Spanyol, dan Hungaria masing-masing lebih dari 20% listriknya berasal dari tenaga surya. 

Jerman menghasilkan 18% listrik dari tenaga surya dengan kapasitas terpasang 119 GW, sementara Spanyol mengoperasikan kapasitas 56 GW.

Amerika Serikat Tetap Berada di Peringkat Tiga

Meski kebijakan federal sempat menghambat pengembangan energi terbarukan, Amerika Serikat tetap menempati peringkat ketiga global dengan kapasitas PLTS mencapai 267 GW, atau setara dengan 8% dari total kebutuhan listrik nasional. Pada 2015, kontribusi energi surya di AS hanya 1%.

Secara bersamaan, proporsi listrik dari batu bara menurun dari 34% menjadi 17% dalam kurun waktu sepuluh tahun. Perubahan ini menegaskan bahwa PLTS mampu bersaing dengan sumber energi konvensional meskipun terdapat hambatan regulasi.

Kondisi Energi Surya di Indonesia

Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, kapasitas kumulatif panel surya di Indonesia pada 2025 tercatat 1,49 GW. Fabby Tumiwa, CEO Institut for Essential Service Reform (IESR), menyatakan dalam wawancara di PV Magazine bahwa pertumbuhan ini diperkirakan lambat berlanjut pada 2026. 

Salah satu kendala adalah penghapusan mekanisme net metering yang sebelumnya memungkinkan pengguna menjual kelebihan listrik ke jaringan PLN.

Potensi teknis energi surya Indonesia sangat besar. Laporan Indonesia Energy Transition Outlook 2026 memperkirakan potensi hingga 7,7 terrawatt (TW). Hal ini menunjukkan peluang ekspansi PLTS yang jauh melampaui kapasitas saat ini jika didukung kerangka kebijakan, insentif, dan pembiayaan yang tepat.

Ekspansi PLTS di India, Brasil, dan Pakistan

India menempati peringkat keempat dunia dengan kapasitas 136 GW, cukup memenuhi 8% kebutuhan listrik bagi lebih dari 1,4 miliar penduduk. Jepang mengikuti dengan 103 GW, menyuplai 11% kebutuhan listrik nasional.

Brasil juga mengembangkan PLTS secara signifikan, menghasilkan 65 GW listrik surya yang mencakup 10% dari bauran listrik nasional. Jika digabungkan dengan energi air, angin, dan biomassa, proporsi energi terbarukan di Brasil mencapai 88%.

Afrika Selatan dan Pakistan juga menunjukkan pertumbuhan pesat. Pada 2015, kurang dari 1% listrik kedua negara berasal dari tenaga surya. Pada 2025, Afrika Selatan memasok 10% listrik dari surya dengan kapasitas 10 GW, sedangkan Pakistan mencapai 20% dengan lebih dari 40 GW.

Energi Surya Membuat Listrik Semakin Murah

Energi matahari menawarkan potensi luar biasa. Dalam satu jam, Matahari memancarkan lebih banyak energi daripada konsumsi manusia setahun penuh. Hanya dengan memanfaatkan kurang dari satu persen luas daratan global, kebutuhan energi dunia dapat terpenuhi.

Efisiensi panel surya yang meningkat dan produksi massal membuat biaya listrik surya turun drastis. Di daerah pedesaan yang cerah, biaya listrik PLTS berskala besar sekitar satu sen euro per kWh (Rp200/kWh), di Jerman empat hingga lima sen euro (Rp1.000/kWh), dan di negara kurang cerah di bawah sembilan sen (Rp1.800/kWh).

Bloomberg New Energy Finance memproyeksikan biaya PLTS global akan turun 30% hingga 2035. Sebagai perbandingan, listrik dari pembangkit nuklir baru jauh lebih mahal, antara 14–49 sen euro per kWh, belum termasuk biaya pembuangan limbah radioaktif. Listrik dari batu bara berkisar 15–29 sen, gas alam 15–33 sen per kWh, dan jika dihitung biaya iklim, batu bara minimal 84 sen, gas alam lebih dari 49 sen per kWh.

Dampak PLTS pada Sektor Lain

Pada 2024, total kapasitas pembangkit baru yang tersambung ke jaringan listrik global 632 GW, 72% di antaranya dari tenaga surya. Sektor lain seperti tenaga bayu 18%, gas 4%, batu bara 3%, tenaga air 2%, dan nuklir 1%.

Energi surya juga memengaruhi mobilitas dan pemanasan. Mobil listrik yang diisi daya dengan panel surya rumah lebih hemat dibanding bensin, bahkan hingga 80% di Jerman. Pemanasan dan pendinginan ruangan lebih hemat energi dengan listrik surya, hingga 30% di Uni Eropa.

Pertumbuhan PLTS global melampaui perkiraan sebelumnya. Laporan World Energy Outlook 2020 memproyeksikan penambahan kapasitas PV global 120 GW pada 2024, namun kenyataannya mencapai 597 GW.

Para ilmuwan memperkirakan tenaga surya akan menjadi sumber energi dominan dunia. Penelitian Universitas Teknologi Lappeenranta menyatakan hingga 76% listrik masa depan dapat berasal dari PLTS. 

Tantangan utamanya adalah memperluas jaringan listrik, mengelola penyimpanan sementara, dan memastikan kontinuitas pasokan listrik global.

Terkini