Ramadan 2026 Diprediksi Jadi Katalis Ekonomi dengan Transaksi Harian Meningkat

Jumat, 27 Februari 2026 | 12:36:08 WIB
Ramadan 2026 Diprediksi Jadi Katalis Ekonomi dengan Transaksi Harian Meningkat

JAKARTA - Perputaran ekonomi pada periode Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah di Indonesia diproyeksikan akan kembali menjadi salah satu pendorong utama aktivitas ekonomi domestik. Nilai transaksi harian diperkirakan bisa mencapai angka yang signifikan menjelang puncak masa ibadah dan perayaan.

Momentum Ramadan Sebagai Penggerak Ekonomi

Bank Mandiri menyampaikan bahwa perputaran uang selama Ramadan dan Idulfitri 2026 diperkirakan akan melonjak dibandingkan tahun sebelumnya. Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, mengatakan bahwa kebutuhan pengisian kas di jaringan bank diperkirakan berada dalam rentang besar sepanjang periode itu.

Proyeksi yang diumumkan menunjukkan bahwa nilai transaksi harian bisa menembus angka sekitar Rp1,4 triliun per hari seiring meningkatnya konsumsi dan mobilitas masyarakat. Pola ini merupakan fenomena tahunan yang selalu terjadi menjelang Lebaran, ketika masyarakat meningkatkan pengeluaran untuk berbagai kebutuhan dan tradisi.

Antisipasi terhadap lonjakan aktivitas ekonomi ini mendorong Bank Mandiri menyiapkan likuiditas dan jaringan layanan dengan pendekatan yang matang. Penyediaan uang tunai yang memadai dan sistem pembayaran digital yang kuat menjadi fokus utama untuk memastikan kebutuhan transaksi masyarakat terpenuhi.

Kesiapan Likuiditas dan Jaringan Layanan Bank

Untuk mengantisipasi lonjakan transaksi, Bank Mandiri menyiapkan dana tunai sebesar Rp44 triliun untuk periode 24 Februari hingga 25 Maret 2026. Angka ini meningkat sekitar 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp41,9 triliun, mencerminkan proyeksi aktivitas ekonomi yang lebih tinggi.

Distribusi uang tunai dilakukan melalui ribuan mesin layanan otomatis, termasuk 12.900 unit ATM dan Cash Recycling Machine (CRM) di seluruh Indonesia. Hal ini diharapkan menjamin ketersediaan uang tunai di berbagai wilayah, termasuk pada titik-titik strategis seperti pusat perbelanjaan hingga lokasi transit arus mudik dan balik.

Bank Mandiri juga memperkuat likuiditas untuk transaksi non-tunai dengan menyiapkan alokasi sekitar Rp18 triliun pada rekening settlement sistem BI-FAST. Proyeksi menunjukkan bahwa nilai transaksi antarbank bisa mencapai sekitar Rp2,5 triliun per hari pada periode puncak.

Selain itu, ketersediaan mesin 322.000 EDC yang tersebar di berbagai titik ritel dan layanan fisik lain turut menjadi bagian dari strategi menjaga kelancaran transaksi. Dukungan digital juga hadir melalui aplikasi Livin’ by Mandiri dengan jutaan pengguna terdaftar serta penyiapan jutaan kartu e-money untuk sistem pembayaran elektronik.

Dampak Ekonomi dari Pola Konsumsi dan Mobilitas

Ramadan dan Idulfitri seperti tahun ini kerap menjadi fase penting bagi perekonomian nasional karena masyarakat meningkatkan pengeluaran untuk kebutuhan konsumsi, hadiah, transportasi, dan persiapan hari raya. Pola ini mencerminkan tradisi dan perilaku konsumen yang menjadikan periode tersebut sebagai kesempatan utama untuk berbelanja dan melakukan berbagai transaksi.

Nilai transaksi digital dan tunai yang diproyeksikan meningkat menunjukkan betapa besarnya peran tradisi keagamaan dalam mendorong aktivitas ekonomi. Selain itu, kegiatan pembayaran seperti pembelian tiket, transportasi, dan layanan digital ikut berkontribusi pada lonjakan transaksi yang mencerminkan mobilitas penduduk yang tinggi.

Permintaan transaksi yang meningkat juga mencerminkan pergeseran perilaku konsumen yang semakin mengandalkan layanan digital untuk pembayaran sehari-hari. Hal ini mendorong inovasi dalam sistem perbankan dan layanan finansial untuk memenuhi kebutuhan nasabah secara lebih efisien.

Strategi Perbankan dan Tantangan Sistem Pembayaran

Bank Mandiri mengantisipasi lonjakan volume transaksi dengan menyiapkan tim monitoring teknologi informasi yang siaga 24 jam. Tim ini bertugas memastikan bahwa seluruh kanal layanan, baik tunai maupun digital, beroperasi secara optimal sepanjang masa sibuk Ramadan hingga hari raya.

Penyediaan alat pembayaran elektronik dan layanan digital bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumen urban, tetapi juga untuk menjangkau masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Hal ini penting untuk memastikan bahwa layanan perbankan berjalan lancar tanpa hambatan signifikan yang dapat menurunkan kepercayaan publik.

Selain aspek teknis, sinergi dengan otoritas moneter dan lembaga lain turut menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas ekonomi saat Ramadan. Bank Mandiri dan pihak terkait turut memperhatikan penyediaan likuiditas serta koordinasi infrastruktur pembayaran nasional.

Ramadan Sebagai Indikator Kekuatan Ekonomi Domestik

Fenomena meningkatnya transaksi di masa Ramadan juga dipandang sebagai indikator daya beli dan stabilitas ekonomi domestik. Pola transaksi yang terus meningkat menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga menjadi pilar penting pertumbuhan ekonomi nasional.

Bank Indonesia dan otoritas ekonomi lainnya juga mencatat bahwa inflasi selama periode Ramadan tetap dikendalikan, membantu menjaga daya beli masyarakat. Koordinasi dalam pengendalian inflasi serta persiapan sistem pembayaran menjadi kunci agar lonjakan transaksi tidak berdampak buruk terhadap stabilitas harga umum.

Secara keseluruhan, Ramadan menjadi momen triwulanan yang secara konsisten mendorong aktivitas ekonomi di Indonesia. Dengan proyeksi transaksi harian mencapai level tinggi dan kesiapan infrastruktur perbankan yang matang, periode ini diperkirakan akan menjadi fase penting yang mencerminkan kekuatan konsumsi nasional dan adaptasi layanan finansial terhadap kebutuhan masyarakat.

Terkini